emeng_bali

Ikon

Just another WordPress.com weblog

gayus-tambunan-mengaku-terima-us-3-juta-dari-grup-bakrie


Vonis tujuh tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim kepada Gayus Tambunan berdasarkan berbagai pertimbangan.Majelis Hakim, yang diketuai Albertina Ho, tidak sependapat dengan tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni 20 tahun penjara.
Majelis Hakim menjatuhkan pidana dengan pidana yang layak patut dan sesuai dengan penuntut umum bukan balas dendam tapi pembinaan.

“Hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa bertentangan dengan program pemerintah dalam penyelenggaraan negara yang bersih korupsi, kolusi dan nepotisme. Sebagai Pegawai Negeri Sipil di Ditjen Pajak menghambat pemasukan pajak untuk pembangunan,” ujar Albertina di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (19/1).

“Hal yang meringankan terdakwa belum pernah dihukum, punya anak-anak yang masih kecil, dan berusia relatif muda sehingga diharap bisa memperbaiki kelakuan di kemudian hari,” tambahnya.Mengadili, menyatakan terdakwa Gayus Halomoan Pandapotan Tambunan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dan lakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan bersama-sama dakwaan kesatu subider dan kedua prime, ketiga dan keempat dan tindak pidana korupsi,” ujarnya.

Sementara Gayus sendiri memuji Majelis Hakim yang yang telah berani memutus selama tujuh tahun penjara.
“Saya sampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada majelis hakim karena memutus hanya berdasarkan fakta persidangan,” kata Gayus usai pembacaan vonis.
Menurutnya, yang diputuskan majelis tidak seperti tuntutan jaksa. “Jaksa menuntut secara membabi buta dan berdasarkan balas dendam,” ujarnya.

Gayus juga memuji hakim hanya memutus sesuai dengan surat dakwaan saja. “Tidak seperti pihak tertentu yang mencicil suatu perkara. Padahal saya sangat berkomitmen untuk bisa membantu satgas mafia hukum khususnya Denny Indrayana dan Mas Achmad Santosa,” ujarnya.

Gayus divonis tujuh tahun penjara. Selain hukuman penjara, Gayus juga harus membayar denda Rp300 juta subsidair tiga bulan penjara. Sedangkan mantan Hakim Agung Benyamin Mangkudilaga mengatakan vonis terhadap Gayus tambunan seharusnya lebih berat dari yang dituntutkan oleh Jaksa.

“Hukuman Gayus itu seharusnya lebih. Dilihat selama proses persidangan diperkirakan bisa lebih (berat),” ujar Benyamin yang dijumpai sebelum persidangan Gayus di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (19/1). (int)

Gayus Haloman Tambunan memang Fenomenal. Sepak terjangnya membikin heboh sekaligus membuat lelah dan kalang kabut para penegak hukum. Gayus mampu membobol semua lini, sehingga semakin jelas membuka bobroknya wajah hukum yang gampang dibeli di negeri ini.

Pria gempal berusia 30 tahun ini mulai santer namanya disebut-sebut karena terkait jaringan mafia pajak yang disinyalir melibatkan para petinggi Polri. Adalah Susno Duadji, mantan Kabareskrim Mabes Polri dan kini menjadi pesakitan yang kali pertama menyebut nama Gayus.

Susno menyebut Gayus menyimpan duit Rp25 miliar di rekening pribadinya. Kala itu, hanya Rp395 juta yang disita sebagai barang bukti untuk menjeratnya secara pidana, sedangkan sisanya Rp24,6 miliar tak jelas juntrungannya. Beredar isu, uang Rp24,6 miliar ini dijadikan bancakan oleh petinggi polisi.

Dalam kasus pajak ini, Gayus dijerat tiga pasal sekaligus, penggelapan, pencucian uang, dan korupsi. Anehnya dalam persidangan, Gayus hanya dituntut pasal penggelapan. Hakim pun mengganjarnya hanya setahun penjara percobaan, namun belakangan malah dibebaskan.

Selalu ada yang mengejutkan dari Gayus Tambunan.Setelahjalanjalan ke luar negeri dengan paspor palsu, Gayus juga disebut memiliki Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) atau pom bensin. Adalah anggota Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum,Yunus Husein yang mengungkapkan hal itu pada Obrolan Langsat bertajuk “Mafia Hukum”di Jalan Langsat 1/16 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin 17 Januari lalu.

Yunus mengatakan, dalam data laporan yang dimilikinya, Gayus memiliki tiga pekerjaan yakni pegawai pajak, pengusaha pom bensin, dan pekerjaan lain yang dia lupa. Jika benar Gayus punya pom bensin, hartanya memang berlimpah. Ada dua persyaratan utama untuk menjadi mitra usaha SPBU Pertamina yakni lokasi usaha dan modal miliaran. Calon mitra harus memiliki tempat usaha dengan luas minimal 1.500 meter persegi dengan lokasi harus strategis. Belum lagi dana miliaran untuk modal awal.

Gayus Tambunan seperti sosok sakti. Terdakwa kasus mafia pajak itu berhasil mengakali hampir semua lini aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan, kehakiman, bahkan aparat imigrasi. Sepak terjang Gayus dalam urusan mengakali aparat penegak hukum cukup panjang. Gayus mendapatkan berkas rencana tuntutan (rentut) jaksa penuntut umum Kejari Tangerang dengan tuntutan pidana satu tahun dalam kasus pencucian uang dan penggelapan.

Untuk mendapatkan rentut itu, Gayus mengaku memberikan uang ke jaksa lewat pengacaranya Haposan Hutagalung sebesar Rp5 miliar. Gayus juga diduga menyuap Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang Muhtadi Asnun.

Gayus menyuap beberapa penyidik Bareskrim Mabes Polri agar rumah mewahnya di Kepala Gading tidak disita. Begitu juga agar uangnya di rekening bank tidak diblokir. Gayus juga menyuap Kepala Rutan Mako Brimob dan delapan anak buahnya agar bisa keluar tahanan.

Gayus juga mengakali petugas Imigrasi untuk mendapatkan paspor atas nama Sony Laksono, lantas pelesiran ke luar negeri. Dari hasil pengembangan, Mabes Polri menemukan data terbaru mengenai dugaan peran WNA Jhon Jerome dan Arie dalam kasus pemalsuan paspor ini.

Polri mendapatkan bukti baru berupa fotokopi paspor WN Republik Guyana, sebuah negara di Amerika Selatan, dengan foto mirip Gayus dan seorang wanita mirip Milana Anggraieni dalam percakapan via email antara Jerome dan Arie. Pada paspor tersebut tertera foto mirip Gayus dengan atas nama Yosep Morris dengan nomor 1209595 dan satu lagi perempuan atas nama Ann Morris dengan nomor paspor 1209191 yang foto mirip Milana Anggraieni.

Temuan paspor ganda Gayus ini membuat Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa terheran-heran lantaran tidak lazim. Kata Marty, “WNI tak mungkin punya dua paspor. Kita tak punya azas dwi kebangsaan, ini sesuatu yang luar biasa.”

Sementara, Menkum HAM Patrialis Akbar mengaku paspor Gayus ini canggih karena tidak hanya lolos dalam pemeriksaan di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Memang luar biasa orang yang satu ini. Dan hari ini, mantan pegawai pajak Gayus Tambunan akan menghadapi ketukan palu vonis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Gayus akan menghadapi vonis pada hari ini.

Sebelumnya, Gayus dituntut 20 tahun bui karena diduga terlibat kasus mafia hukum dan mafia pajak. Selain menuntut pidana badan, jaksa juga meminta hakim untuk menjatuhkan pidana denda kepada Gayus Tambunan sebanyak Rp500 juta subsidair 6 bulan.

Mengenai vonis, Pertanyaannya sekarang, apakah dengan vonis Gayus kasus akan selesai? Atau malah sengaja dibikin selesai sesuai pesanan? Tentu, semua berharap tidak demikian. Tidak cuma Gayus yang diganjar dengan hukuman setimpal, namun semua yang terlibat dalam mafia hukum dan mafia pajak ini harus diungkap sejelas-jelanya dan dihukum seadil-adilnya.

Kenapa demikian? Ihwalnya, Gayus secara tegas menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum sudah tahu siapa big fish dari kasus ini sebenarnya. “Presiden sudah tahu, Satgas sudah tahu siapa yang big fish, kalau saya ikan teri,” aku Gayus di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin 10 Januari lalu. Ketika ditanyai siapa big fish tersebut? Gayus enggan membocorkannya. “Saya ikan teri, saya nggak tahu big fish,” kilahnya.

Dengan demikian, masih ada perkejaan berat bagi polisi, Satgas dan Panja Pajak untuk membongkar cukong yang berada di balik aksi Gayus. Dan sebenarnya, negara tidak hanya berhadapan dengan aksi Gayus seorang diri. Boleh jadi ada kepentingan perusaan besar yang diketahui menjadi “pasien” aktor si banyak “muka” itu. Dalam hal ini negara dihadapkan pada kepentingan asing yang kuat. Ya, kita tunggu saja kelanjutan kasus ini!

USAI sidang vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Gayus Tambunan menyampaikan curahan hatinya. Ia mengungkapkan kekesalannya terhadap Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, terutama Denny Indrayana dan Mas Achmad Santosa. Berikut curhatnya:

Di kesempatan ini, saya menyatakan kekecewaan saya yang sangat besar terhadap satgas Pemberantasan Mafia Hukum, khususnya kepada Denny Indrayana, Mas Achmad Santosa, termasuk Yunus Husein.

Ada beberapa poin yang selama ini saya keep (tutup) rapat-rapat dalam rangka saya ingin membantu, tapi rupaya perbuatan mereka justru memperkeruh susaana dan makin menyudutkan saya, seolah-olah saya ini penjahat nomor satu di Indonesia.

Beberapa poin itu dapat saya bacakan sebagai berikut:

Saya tiga ketemu Denny Indrayana 18 Maret, 22 maret dan 24 maret. Selama pertemuan itu berulang kali Denny bilang kalau bisa kasus mafia hukum dipegang KPK karena Denny tidak percaya dengan Mabes Polri.

Kedua, keberangkatan saya ke Singapura tanggal 24 maret 2010 langsung ke bandara (Soekarno Hatta) setelah bertemu satgas, karena disuruh Denny agar saya tidak dijadikan korban bersamaan Andi Kosasih menunggu sampai Haposan ditangkap lebih dahulu. Jika Haposan sudah ditangkap, maka Denny akan menjemput saya di Singapura dan membawa kembali ke Indonesia.

Pada saat bertemu di Singapura, saya memberi tahu Denny dan Ota (Mas Akhmad Santosa) tentang uang yang lebih dari Rp50 miliar di safe deposit box. Namun saya tidak pernah memberi tahu uang itu dari mana. Di beberapa kesempatan, DI dan Ota bilang itu dari Bakrie Grup. Saya tidak pernah menyatakan seperti itu.

Satgas yang mengarahkan dan mengalihkan dari isu mafia pajak yang kemungkinan melibatkan Direktur dan Dirjen Pajak. Atau mafia hukum yang kemungkinan melibatkan Cirus Sinaga. Namun ditakutkan membongkar kasus Antasari. Kasus kepergian ke Bali yang diduga bertemu Ical, ke Makau dan Singapura untukamankan aset dan dibeking orang kuat. tu hal lagi

Dengan cara sengaja mengupload foto gambar paspor ke Twitter-nya, sehingga perhatian orang
tidak ke Direktur dan Dirjen Pajak, ataupun ke Cirus Sinaga.

Denny tidak hanya berkomunikasi dengan istri saya untuk berkata jujur, tetapi memang ingin mengintimidasi istri saya. Denny bukan berempati terhadap seorang wanita yang sedang sedih dan tertekan, suami di penjara, dan mengurus anak-anak seorang diri. Malah memaksa istri jujur, apakah bertemu Ical di Bali. Padahal istri sudah jujur tidak bertemu Ical di Bali. Kalau emang tidak ketemu, apakah harus bilang ketemu!

Pada waktu di Singapura, Denny berjanji pada saya apabila mau membongkar mafia hukum, saya akan dibantu sebagai whistle blower. Karena Denny dekat dengan media, ia akan omong tiap hari, sehingga hukuman saya akan diringankan. Kenyataannya Denny justru memojokkan saya terus menerus dan menjadikannya sebagai alat politik.

Khususnya tiga perusahaan bakrie yang ingin disuruhnya diungkap, Denny juga menjanjikan saya akan aman dan nyaman selama proses hukum berlangsung jika saya mau balik ke indonesia dan kooperatif.

Denny yang menyarankan saya memakai jasa Adnan Buyung dan partners, dan mengantar istri dan ibu mertua bertemu Bang Buyung. Namun justru Denny bermanuver sendiri yang justru merugikan luar biasa saya dan Bang Buyung dengan selalu menembak Ical, bukannya membongkar mafia pajak yang kemungkinan melibatkan Direktur dan Dirjen Pajak atau membongkar peran Cirus Sinaga yang kemungkinan membongkar kasus Antasari.

Satu hal lagi berdasrkan cerita Jhon Grice kepada saya. Jhon Grice adalah agen CIA dan semua kegiatannya diketahui dan direstui oleh salah seorang anggota satgas.(*)

Jakarta – Kabareskrim Polri Komjen Ito Sumardi mengakui adanya keterangan tersangka kasus dugaan korupsi Gayus Halomoan Tambunan yang menyatakan dirinya menerima suap dari tiga anak perusahaan Group Bakrie senilai US$3 juta.

“Itu kan pengakuan dia jadi tentunya sekarang kita tidak hanya berdasarkan pengakuan saja. Tetapi kita juga harus melihat berdasarkan bukti yang harus kita kumpulkan,” ujarnya di kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Jakarta Selatan, Kamis (3/6).

Guna mencari bukti atas tudingan pegawai Ditjen Pajak itu, Tim Independen Polri berencana memeriksa tiga perusahaan yang dimaksud. Ketiganya adalah PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bumi Resources, Tbk, dan PT Arutmin.

“Nanti kita akan minta keterangan dari yang dituduhkan oleh saudara Gayus. Dari keterangan itu ada tidak bukti-buktinya,” ujarnya.

Gayus sendiri dalam pemeriksaan oleh penyidik Tim Independen mengaku menerima suap dari 40 perusahaan yang ia tangani sejak tahun 2007-2009. Hal ini sedikit berbeda dengan hasil penelusuran Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang menyebutkan ada 149 transaksi dalam rekening Gayus.

Selama menjadi pegawai ditjen pajak, ia mengaku mendapatkan US$500 ribu dari KPC pada tahun 2008. Dari Bumi Resources US$500 ribu.

Pada tahun 2009 ia menerima US$2 juta dari KPC dan Arutmin. Belum diketahui jumlah potongan pajak yang diberikan Gayus atas suap yang ia terima.

Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Metal Video Free Download, Death Metal Video, Black Metal Video, Heavy Metal, A-Z - VileMetalVids.com //]]>-->

var gaJsHost = (("https:" == document.location.protocol) ? "https://ssl." : "http://www."); document.write(unescape("%3Cscript src='" + gaJsHost + "google-analytics.com/ga.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E")); var pageTracker = _gat._getTracker("UA-3302257-1"); pageTracker._initData(); pageTracker._trackPageview();
Liputan 6 - Aktual Tajam dan Terpercaya
<!--// -->
<!--// -->

Kontak Kami

Email : redaksi@sctv.co.id atau liputan6@sctv.co.id     Faximile : 021 - 7278 2055,
Telepon : 021 - 2793 5555 Ekstensi 1211 - 1216,
SMS : ketik komentar <spasi> Komentar Anda, Kirim ke 7266
lain-lain : kirim komentar di http://blog.liputan6.com, kirim surat pembaca di http://www.liputan6.com
KOMPAS.com
Minggu, 20 Februari 2011
Selamat Datang   |      |  
<!-- -->
Afrika Barat
Sementara, di Koumassi dekat Abidjan, pasukan pro-Gbagbo juga menembakkan gas air mata kepada para...

KOMPAScom

KompasBola

KompasOtomotif

KompasEntertainment

KompasTekno

Saham & Valas Update : 20/2/2011 02:01
USD
8855.00
DJI
10340.69
EUR
12130.0215
FTSE
6082.99
JPY
106.4431
N300
198.07
AUD
8983.8398
HSI
23595.24
HEADLINE
HEADLINE
SPONSORED CONTENT
1 2 3 4 5 6
Topik Pilihan
KONGRES PSSI
Komite Pemilihan merahasiakan alasan tidak lolosnya Arifin Panigoro dan George Toisutta, serta calon lain, dari proses verifikasi.
FILM HOLLYWOOD MENGHILANG?
Dengan ditariknya film-film Hollywood dari bioskop-bioskop, menurut Tantowi Yahya, ini menjadi satu peluang besar bagi industri...
UBERTWITTER DIBLOKIR
Fitur pemanjang Twitter melalui alamat tmi.me kemungkinan masih bisa digunakan kecuali untuk Direct Message dan akun yang...
KRISIS TIMUR TENGAH
Amnesti tersebut dijanjikan kurang dari sepekan gelombang protes, yang memaksa mantan Presiden Zine al-Abidine Ben Ali lari...
Pilihan Editor
<!---Gate Kaleidoskop 2010
--->
<!--//<![CDATA[ var m3_u = (location.protocol=='https:'?'https://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php':'http://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php'); var m3_r = Math.floor(Math.random()*99999999999); if (!document.MAX_used) document.MAX_used = ','; document.write (""); //]]>-->
<!--//<![CDATA[ var m3_u = (location.protocol=='https:'?'https://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php':'http://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php'); var m3_r = Math.floor(Math.random()*99999999999); if (!document.MAX_used) document.MAX_used = ','; document.write (""); //]]>-->
<!--//<![CDATA[ var m3_u = (location.protocol=='https:'?'https://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php':'http://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php'); var m3_r = Math.floor(Math.random()*99999999999); if (!document.MAX_used) document.MAX_used = ','; document.write (""); //]]>-->
<!---->
<!-- -->
Pilih Surat Kabar Bangka Pos Banjarmasin Post Kompas Pos Kupang Serambi Indonesia Sriwijaya Post Surya Tribun Batam Tribun Jabar Tribun Kaltim Tribun Pekanbaru Tribun Timur Wartakota Pilih Majalah & Tabloid Angkasa Bola Chip Gaya Hidup Sehat Hai Info Komputer Kontan Motor Plus Otomotif Net Nakita National Geographic Nova PC Plus Sinyal Soccer Idea Pilih Penerbit Elex Media Komputindo Gramedia Majalah Gramedia Pustaka Utama Grasindo Kepustakaan Populer Gramedia Gramedia International Pilih Media Elektronik KOMPAS.com Sonora Motion FM Pilih Industri Bentara Budaya Dyandra Promosindo PT Gramedia Printing Group Universitas Media Nusantara Pilih Hotel Amaris Hotel Santika Indonesia The Kayana The Samaya