emeng_bali

Ikon

Just another WordPress.com weblog

ku ingin menjadi para koruptor


KOMPAS.com – Entah disadari atau tidak, budaya korupsi yang sekarang muncul sebagai isu nasional, bahkan mungkin Internasional, ternyata salah satunya diakibatkan oleh sistem dan budaya pendidikan masyarakat bangsa kita sendiri. Pendidikan yang seharusnya memberikan pencerahan kepada anak-anak bangsa, justru sebaliknya, membuat mereka semakin tenggelam dalam ketidakpercayaan diri menghadapi kehidupan.

Kondisi ini bukan tidak disadari oleh masyarakat. Hanya saja, mereka seolah tak mampu mengambil jarak dan melawan dengan arus pembodohan yang terjadi dalam sistem pendidikan kita.

Sebagai pendidik saya merasa sangat berdosa ketika tak mampu melawan arus utama itu, kecuali hanya sekedar mengeluh dalam tulisan dan diskusi-diskusi pendek yang tak berujung pada lahirnya solusi. Satu lagi, kecuali hanya sekedar menjaga bara idealisme sebagai pendidik.

Satu kali, seorang wali murid mengeluh, betapa sulitnya dia membantu menyelesaikan tugas sekolah anaknya yang baru kelas 3 (tiga) SD. Karena memang, tugas itu dinilainya tak mungkin mampu diselesaikan oleh anak seusianya.

Sang anak terus mendesak agar orang tuanya menyelesaikan tugas sekolah dengan sebaik-baiknya, karena dia takut mendapatkan nilai jelek dari gurunya. Sementara sang guru hanya menerima dan menilai tugas itu dengan standar yang ia tetapkan sendiri baik dan buruknya. Dan tentu, tanpa memperhitungkan tugas itu cocok untuk anak didiknya dan dikerjakan sang murid atau orang tuanya.

Maka, dari pengalaman itu, tengoklah pada dinding kelas sekolah dasar kita, banyak sekali karya orang tua yang dipajang demi “menyelamatkan” buah hatinya dari nilai rapor yang jelek, tanpa mengetahui efek di kemudian hari, yaitu anak akan menjadi sosok anak yang penakut, tidak kreatif, suka berbohong atau enggan mengakui karya orang lain atau orang tuanya sebagai buah kreativitasnya, serta mengambil keuntungan dari kerja keras orang lain.

Ya, inilah awal mula pendidikan para koruptor. Ironi ini masih berlanjut dengan sistem kelulusan berbasis UAN (Ujian Akhir Nasional) atau lebih dikenal Ujian NAsional (UN) yang tidak memberikan ruang apresiasi terhadap watak dan karakter anak didik. Keberhasilan sekolah dan guru hanya diukur dengan angka-angka yang dipaksa membawa makna “baik” dan “tidak baik”, “lulus” dan “tidak lulus, “berprestasi” dan “tidak berprestasi”.

Sekali lagi, semua itu dibebankan pada anak didik mereka, entah siap atau tidak. Maka, tak perlu heran, jika kemudian sang guru yang takut kepada kepala sekolah. Kepala sekolah juga takut pada kepala dinas pendidikan, dan kepala dinas takut pada bupati, serta bupati yang takut pada gubernur, dan seterusnya gubernur takut kepada menteri, dan menteri yang takut pada presiden.

Semua rantai ketakutan tersebut telah merekayasa semua hasil akhir para anak didik agar terlihat baik dan berhasil dengan penuh muslihat kecurangan dan kebohongan. Sang murid pun terlihat senang karena telah lulus. Mereka tak peduli dengan penilaian, bahwa kelulusan itu karena fasilitas kecurangan yang memang “dibenarkan” oleh sistem pendidikan yang aneh di negeri ini.

Ya, inilah fase kedua pendidikan para calon koruptor, yang ada dalam benak anak bangsa itu adalah “yang penting berhasil (berprestasi, lulus, menang, berkuasa, kaya dan lain-lain), tak peduli apapun caranya. Kita tak sadar, anak-anak bangsa ini sedang terancam bukan oleh bangsa lain, tetapi justru oleh bangsanya sendiri yang tidak menyadari, bahwa sistem pendidikan yang sedang berlangsung sekarang ini tak lagi memberikan ruang pengembangan karakter mulia pada anak-anak mereka.

Mereka, anak-anak didik kita, tidak pernah dijadikan subyek terdidik yang memiliki potensi bakat beragam yang luhur jika diberi ruang kreasi yang cukup. Para kader bangsa itu hanya perlakukan sebagai obyek yang dapat dipermainkan demi kepentingan sekolompok orang.

Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Metal Video Free Download, Death Metal Video, Black Metal Video, Heavy Metal, A-Z - VileMetalVids.com //]]>-->

var gaJsHost = (("https:" == document.location.protocol) ? "https://ssl." : "http://www."); document.write(unescape("%3Cscript src='" + gaJsHost + "google-analytics.com/ga.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E")); var pageTracker = _gat._getTracker("UA-3302257-1"); pageTracker._initData(); pageTracker._trackPageview();
Liputan 6 - Aktual Tajam dan Terpercaya
<!--// -->
<!--// -->

Kontak Kami

Email : redaksi@sctv.co.id atau liputan6@sctv.co.id     Faximile : 021 - 7278 2055,
Telepon : 021 - 2793 5555 Ekstensi 1211 - 1216,
SMS : ketik komentar <spasi> Komentar Anda, Kirim ke 7266
lain-lain : kirim komentar di http://blog.liputan6.com, kirim surat pembaca di http://www.liputan6.com
KOMPAS.com
Minggu, 20 Februari 2011
Selamat Datang   |      |  
<!-- -->
Afrika Barat
Sementara, di Koumassi dekat Abidjan, pasukan pro-Gbagbo juga menembakkan gas air mata kepada para...

KOMPAScom

KompasBola

KompasOtomotif

KompasEntertainment

KompasTekno

Saham & Valas Update : 20/2/2011 02:01
USD
8855.00
DJI
10340.69
EUR
12130.0215
FTSE
6082.99
JPY
106.4431
N300
198.07
AUD
8983.8398
HSI
23595.24
HEADLINE
HEADLINE
SPONSORED CONTENT
1 2 3 4 5 6
Topik Pilihan
KONGRES PSSI
Komite Pemilihan merahasiakan alasan tidak lolosnya Arifin Panigoro dan George Toisutta, serta calon lain, dari proses verifikasi.
FILM HOLLYWOOD MENGHILANG?
Dengan ditariknya film-film Hollywood dari bioskop-bioskop, menurut Tantowi Yahya, ini menjadi satu peluang besar bagi industri...
UBERTWITTER DIBLOKIR
Fitur pemanjang Twitter melalui alamat tmi.me kemungkinan masih bisa digunakan kecuali untuk Direct Message dan akun yang...
KRISIS TIMUR TENGAH
Amnesti tersebut dijanjikan kurang dari sepekan gelombang protes, yang memaksa mantan Presiden Zine al-Abidine Ben Ali lari...
Pilihan Editor
<!---Gate Kaleidoskop 2010
--->
<!--//<![CDATA[ var m3_u = (location.protocol=='https:'?'https://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php':'http://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php'); var m3_r = Math.floor(Math.random()*99999999999); if (!document.MAX_used) document.MAX_used = ','; document.write (""); //]]>-->
<!--//<![CDATA[ var m3_u = (location.protocol=='https:'?'https://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php':'http://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php'); var m3_r = Math.floor(Math.random()*99999999999); if (!document.MAX_used) document.MAX_used = ','; document.write (""); //]]>-->
<!--//<![CDATA[ var m3_u = (location.protocol=='https:'?'https://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php':'http://ads4.kompasads.com/new2/www/delivery/ajs.php'); var m3_r = Math.floor(Math.random()*99999999999); if (!document.MAX_used) document.MAX_used = ','; document.write (""); //]]>-->
<!---->
<!-- -->
Pilih Surat Kabar Bangka Pos Banjarmasin Post Kompas Pos Kupang Serambi Indonesia Sriwijaya Post Surya Tribun Batam Tribun Jabar Tribun Kaltim Tribun Pekanbaru Tribun Timur Wartakota Pilih Majalah & Tabloid Angkasa Bola Chip Gaya Hidup Sehat Hai Info Komputer Kontan Motor Plus Otomotif Net Nakita National Geographic Nova PC Plus Sinyal Soccer Idea Pilih Penerbit Elex Media Komputindo Gramedia Majalah Gramedia Pustaka Utama Grasindo Kepustakaan Populer Gramedia Gramedia International Pilih Media Elektronik KOMPAS.com Sonora Motion FM Pilih Industri Bentara Budaya Dyandra Promosindo PT Gramedia Printing Group Universitas Media Nusantara Pilih Hotel Amaris Hotel Santika Indonesia The Kayana The Samaya